Oktober 28, 2026

KH. Nawawi Bagor, Ulama Pejuang dari Kutorejo yang Dianugerahi Tokoh Pejuang Santri 2026

Upacara Hari Santri Bagor

Jejak perjuangan ulama tidak selalu terukir di atas prasasti, tetapi hidup dalam ingatan masyarakat, diwariskan melalui keteladanan, dan terus menyala dalam semangat generasi penerus. Itulah gambaran perjuangan KH. Nawawi Bagor, ulama asal Desa Kutorejo, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk, yang dianugerahi penghargaan sebagai Tokoh Pejuang Santri dalam peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 tingkat Kecamatan Bagor, Kamis (22/10/2026).

Penghargaan tersebut diberikan oleh Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) bersama aliansi tokoh masyarakat Islam setempat sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan pengabdian KH. Nawawi dalam dakwah, pendidikan Islam, pengembangan Nahdlatul Ulama (NU), hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Piagam penghargaan diterima oleh perwakilan keluarga besar atau dzuriyah beliau.

Penganugerahan ini bukan sekadar seremoni penghormatan terhadap seorang tokoh, melainkan momentum untuk membuka kembali lembaran sejarah perjuangan ulama dan santri yang telah memberikan sumbangsih besar bagi agama, masyarakat, dan bangsa.

Nama KH. Nawawi Bagor menempati tempat tersendiri dalam sejarah perkembangan Islam dan perjuangan masyarakat di Kabupaten Nganjuk. Meski lahir di Kediri, kiprah dakwah dan perjuangannya justru banyak dikenang di Desa Kutorejo, Kecamatan Bagor, serta wilayah sekitarnya.

Perjalanan hidup dan pengabdiannya terdokumentasi dalam buku Biografi K.H. Nawawi Bagor: Jejak Ulama Pejuang, dari Dakwah hingga Kemerdekaan karya Usman Hadi, S.Hum., anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Nganjuk.

Dalam perjalanan dakwahnya, KH. Nawawi turut berperan dalam membangun dan mengembangkan Nahdlatul Ulama di wilayah Bagor bersama sejumlah ulama lainnya, di antaranya KH. Abdul Fattah Jalalain, KH. Imam Ghozali, KH. Hayatuddin Rozi, dan KH. Hamid Soleh. Kiprah mereka menjadi bagian dari perjalanan panjang perjuangan ulama dalam menanamkan nilai-nilai keislaman serta memperkuat kehidupan keagamaan masyarakat.

KH. Nawawi juga dikenal memiliki garis keturunan yang istimewa. Berdasarkan buku biografinya, beliau merupakan cicit Pangeran Diponegoro, salah satu tokoh besar perjuangan melawan kolonialisme yang kini diakui sebagai Pahlawan Nasional. Latar belakang tersebut menjadi bagian dari kisah hidupnya yang sarat dengan nilai perjuangan dan pengabdian.

Namun, kebesaran KH. Nawawi tidak hanya tercermin dari garis keturunannya. Dedikasinya dalam membina umat, mengembangkan pendidikan agama, serta memperkuat pemahaman keislaman masyarakat menjadi warisan penting yang terus dikenang hingga kini.

Bagi KH. Nawawi, perjuangan tidak cukup dilakukan melalui mimbar dakwah dan ruang pendidikan. Ketika bangsa menghadapi ancaman penjajahan, pengabdian kepada agama dan tanah air juga diwujudkan melalui perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Beliau tercatat bergabung dengan Laskar Hizbullah, barisan perjuangan yang melibatkan para kiai, santri, dan pemuda Islam dalam menghadapi kekuatan kolonial. Laskar ini tumbuh dalam semangat perjuangan yang berkaitan erat dengan seruan para ulama, termasuk Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.

Keterlibatan KH. Nawawi dalam perjuangan tersebut memperlihatkan bahwa peran ulama pada masa itu tidak hanya berkaitan dengan pembinaan spiritual, tetapi juga dengan keberanian menjaga kehormatan dan kemerdekaan bangsa.

Selepas Indonesia merdeka, KH. Nawawi disebut pernah mendapat tawaran untuk bergabung dengan Legiun Veteran. Namun, beliau memilih melanjutkan pengabdian melalui dakwah dan pendidikan Islam.

Pilihan tersebut mencerminkan pandangan bahwa perjuangan tidak berakhir setelah kemerdekaan diraih. Bangsa yang merdeka tetap membutuhkan generasi berilmu, berakhlak, dan memiliki landasan keagamaan yang kuat. Melalui pendidikan dan pembinaan umat, KH. Nawawi meneruskan perjuangan dalam bentuk pengabdian yang berbeda.

Rasa syukur atas penganugerahan tersebut disampaikan oleh salah satu dzuriyah KH. Nawawi Bagor, KH. Muhamad Tajul Mafachir, Lc. Ia menyampaikan terima kasih kepada Forkopimcam dan aliansi tokoh masyarakat Islam Kecamatan Bagor yang telah memberikan penghargaan kepada leluhurnya.

Menurutnya, penghargaan tersebut bukan semata-mata kehormatan bagi keluarga besar, melainkan pengingat akan besarnya pengorbanan para ulama dan santri dalam perjalanan sejarah bangsa.

“Penghargaan ini adalah amanah bagi kami para dzuriyah untuk meneladani perjuangan beliau, bukan hanya mengenangnya. Santri hari ini harus meneruskan semangat itu dengan ilmu, akhlak, dan kontribusi nyata bagi bangsa,” ujarnya.

Ia juga berharap penganugerahan tersebut dapat mendorong semakin banyak pihak untuk melakukan penelitian, menulis, dan mendokumentasikan sejarah perjuangan KH. Nawawi Bagor. Dengan demikian, generasi mendatang dapat mengenal lebih dekat sosok ulama yang telah mengabdikan hidupnya bagi agama dan tanah air.

Penganugerahan Tokoh Pejuang Santri kepada KH. Nawawi Bagor menjadi pengingat bahwa sejarah perjuangan bangsa tidak dapat dilepaskan dari peran ulama dan santri. Di balik kemerdekaan yang dinikmati hari ini, terdapat jejak pengorbanan, keberanian, dan keikhlasan para pendahulu yang berjuang sesuai dengan peran dan zamannya.

Dari Kutorejo, Kecamatan Bagor, kisah perjuangan KH. Nawawi menghadirkan pesan bahwa cinta tanah air dapat diwujudkan melalui berbagai jalan: perjuangan melawan penjajahan, penguatan organisasi, pendidikan, dan pembinaan masyarakat.

Peringatan Hari Santri Nasional 2026 pun menjadi momentum untuk tidak sekadar mengenang nama-nama besar dalam sejarah, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai perjuangan mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab, menghormati ulama bukan hanya dengan mengenang jasa-jasanya, melainkan juga dengan meneruskan perjuangan, menjaga warisan ilmu, dan mengabdikan diri bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.

Kontributor : Gus Tajul

Editor : Dina Tia Fatikasari