Orasi Ilmiah Wisuda UPDN Nganjuk, KH Ilhamullah Sumarkan Tekankan Kunci Sukses: Ikhtiar, Doa, dan Tawakal
Kesuksesan bukan semata-mata tentang kecerdasan, gelar akademik, atau pencapaian duniawi. Lebih dari itu, keberhasilan membutuhkan perpaduan antara kesungguhan dalam berikhtiar, ketekunan berdoa, dan keteguhan bertawakal kepada Allah SWT. Pesan inilah yang disampaikan Wakil Koordinator Koordinator Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (Kopertais) Wilayah IV Surabaya, Dr. KH. Ilhamullah Sumarkan, M.Ag., dalam orasi ilmiah Wisuda Sarjana ke-16 dan Pascasarjana ke-6 Universitas Pangeran Diponegoro (UPDN) Nganjuk, Sabtu (10/10/2026).
Di hadapan 301 wisudawan, yang terdiri atas 270 lulusan program sarjana (S1) dan 31 lulusan program magister (S2), KH Ilhamullah mengajak para lulusan menjadikan momentum wisuda sebagai titik awal untuk menapaki kehidupan yang lebih bermakna. Menurutnya, bekal ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan kekuatan spiritual, akhlak yang baik, dan kesadaran untuk senantiasa melibatkan Allah SWT dalam setiap langkah kehidupan.
Untuk menyampaikan pesan tersebut secara ringan dan mudah diingat, KH Ilhamullah menggunakan analogi sejumlah merek kartu telekomunikasi dan istilah populer yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Cara penyampaian ini menjadikan pesan tentang ikhtiar, doa, dan tawakal terasa lebih akrab sekaligus mengandung refleksi mendalam bagi para wisudawan.
Ia mengibaratkan Telkomsel sebagai ajakan untuk terus menjalin komunikasi dengan Allah SWT, terutama melalui ibadah dan menjaga salat lima waktu. Sebagaimana komunikasi menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia, hubungan spiritual dengan Sang Pencipta juga harus senantiasa dirawat melalui ketaatan dan ibadah.
Sementara itu, istilah Indosat dikaitkan dengan pentingnya mengintensifkan doa, memperkuat usaha, dan meneguhkan tawakal. Ikhtiar tidak boleh berhenti pada harapan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata, disertai doa yang tulus dan keyakinan terhadap ketetapan Allah SWT.
Pesan spiritual berikutnya disampaikan melalui ungkapan “Indahnya Doa Saat Tahajud”. KH Ilhamullah mengingatkan pentingnya membiasakan salat malam sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, memohon pertolongan-Nya, sekaligus menguatkan hati ketika menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Tak berhenti pada hubungan dengan Allah SWT, para wisudawan juga diajak membangun orientasi kehidupan yang tidak hanya berpusat pada pencapaian duniawi. Melalui istilah Simpati, ia mengajak para lulusan untuk menyimpan amal dan membangun tabungan akhirat. Ilmu, harta, jabatan, dan kesempatan yang dimiliki hendaknya menjadi sarana untuk memperbanyak kebaikan serta memberikan manfaat bagi sesama.
Adapun analogi Mentari digunakan sebagai pengingat agar ketakwaan terus ditingkatkan setiap hari. Istilah M3 menjadi ajakan untuk memiliki tujuan hidup yang berorientasi pada rida Ilahi, sedangkan Smartfren menggambarkan semangat untuk meraih prestasi dalam kehidupan dunia dan akhirat. Sementara itu, istilah Eksis dimaknai sebagai dorongan agar senantiasa melakukan kebaikan secara konsisten dan istiqamah.
Rangkaian analogi tersebut menegaskan bahwa kesuksesan sejati tidak cukup diukur dari seberapa tinggi seseorang mencapai kedudukan atau seberapa banyak prestasi yang diraih. Kesuksesan juga tercermin dari kualitas ibadah, keluhuran akhlak, keteguhan prinsip, serta seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.
Dalam orasi ilmiahnya, KH Ilhamullah turut mengingatkan kandungan Surah Al-Mulk ayat 2, yang menjelaskan bahwa Allah SWT menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji manusia, siapa di antara mereka yang paling baik amalnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi para lulusan bahwa kehidupan merupakan ruang untuk membuktikan kualitas pengabdian. Gelar akademik bukanlah garis akhir perjuangan, melainkan amanah yang harus diwujudkan melalui karya, tanggung jawab, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Selain menyampaikan pesan spiritual, KH Ilhamullah juga memberikan apresiasi terhadap perkembangan UPDN Nganjuk yang telah berstatus universitas. Ia berharap UPDN terus berkembang menjadi perguruan tinggi yang semakin maju, unggul, dan mampu meningkatkan kualitas pendidikan, termasuk profesionalisme dosen serta mutu lulusannya.
Wisuda kali ini diikuti pula oleh tujuh lulusan program magister asal Libya. Prosesi berlangsung di halaman Gedung UPDN Nganjuk dengan dihadiri unsur TNI-Polri, organisasi kemasyarakatan, perwakilan lembaga, sivitas akademika, serta orang tua dan wali wisudawan.
Kehadiran para wisudawan dari berbagai latar belakang tersebut menjadi bagian dari perjalanan UPDN Nganjuk dalam menjalankan peran pendidikan tinggi, yakni mencetak sumber daya manusia yang berilmu, berintegritas, dan siap berkontribusi bagi kehidupan bermasyarakat.
Bagi para lulusan, momentum wisuda membawa tanggung jawab baru. Mereka dituntut tidak hanya mampu bersaing di dunia kerja, tetapi juga tetap menjaga nilai-nilai moral, mengamalkan ilmu yang diperoleh, dan hadir sebagai bagian dari solusi atas berbagai persoalan di tengah masyarakat.
Orasi ilmiah KH Ilhamullah Sumarkan pun memberikan pesan yang kuat: ilmu harus diiringi amal, usaha harus disertai doa, dan setiap langkah perjuangan harus dilandasi tawakal kepada Allah SWT.
Wisuda bukanlah akhir dari perjalanan belajar, melainkan awal dari pengabdian yang lebih luas. Dengan bekal ilmu, semangat ikhtiar, kekuatan doa, dan keteguhan tawakal, para lulusan UPDN Nganjuk diharapkan mampu menapaki masa depan dengan penuh optimisme sekaligus menghadirkan manfaat bagi umat, bangsa, dan agama.
Ilmu sebagai bekal, akhlak sebagai landasan, ikhtiar sebagai jalan, dan rida Allah SWT sebagai tujuan.
Pewarta : Dina Tia Fatikasari






